1. Carilah
karakteristik pengembangan organisasi
PENGERTIAN PENGEMBANGAN ORGANISASI (Organization Development) merupakan:
Suatu pendekatan sistematik, terpadu dan terencana untuk meningkatkan
efektivitas organisasi serta memecahkan masalah-masalah (seperti kutrangnya
kerja sama/koperasi, desentralisasi yang berlebihan dan kurang cepatnya
komunikasi dan sebagainya) yang merintangi efisiensi pengoperasian pada semua
tingkatan.
Definisi pengembangan organisasi: Warren G. Bennis :
pengembangan organisasi adalah suatu jawaban terhadap perubahan, suatu strategi
pendidikan yang kompleks yang diharapkan untuk merubah kepercayaan, sikap, dan
nilai dan susunan organisasi sehingga organisasi dapat lebih baik dalam
menyesuaikan dengan teknologi, pasar, dan tantangan yang baru serta perputaran
yang cept dari perubahan itu sendiri.
Richard Beckhard : Pengembangan organisasi adalah usaha berencana meliputi organisasi
keseluruhan yang diurusi dari atas untuk meningkatkan efektivitas dan kesehatan
organisasi melalui pendekatan berencana dalam proses organisasi dengan memakai
pengetahuan ilmu perilaku.
Ciri-ciri pengembangan organisasi yang efektif sebagai berikut :
Strategi terencana Menekankan cara-cara baru m eningkatkan kinerja Mengandung
nilai humanistik Menggunakan pendekatan komitmen Menggunakan pendekatan ilmiah
Karakteristik pengembangan organisasi : Perubahan yang direncanakan
Perubahan komprehensif Perubahan jangka panjang Tekanan pada kelompok-kelompok
kerja Partisipasi pengantar perubahan Manajemen kolaboratif Tekanan pada
intervensi dan riset kegiatan
Sejarah pengembangan
organisasi French dan Bell menemukakan bahwa ”Pengembangan
organisasi telah muncul dari ilmu pengetahuan keperilakuan terapan dan
psikologi sosial dan dari usaha-usaha yang berurutan untuk menerapkan latihan
laboratorium dan survei umpan balik ke dalam berbagai sistem total”. Jadi, dapat
dikatakan bahwa dua pendekatan pengembangan organisasi adalah latihan
laboratorium dan survei umpan balik. Hasil karya Kurt Lewin merupakan peralatan
bantu dalam kedua pendekatan tersebut.
Contoh kasus: Kegagalan Succession
Planning dan Robohnya Citibank Citi Group Citibank + travelers Group merger Citi group
merupakan hasil dari pengembangan organisasi dengan melakukan merger antara
citibank dan travelers group. Namun contoh kasus citibank ini merupakan salah
satu contoh dari gagalnya pengembangan organisasi dikarenakan adanya kesalahan
dalam struktur internal perusahaan (pemilihan pemimpin) yang tidak berdasarkan
skill SDM (mampu tidaknya dalam membaca situasi global) namun berdasarkan
“perkoncoan”. Hal ini memperburuk sistem perusahaan dan pada akhirnya citigroup
mengalami gejolak / krisis manajerial yang parah.
2. Uraikan
proses perubahan dan perkembangan organisasi
KEKUATAN-KEKUATAN PENYEBAB PERUBAHAN
A. Kekuatan-kekuatan eksternal
Perubahan organisasi terjadi karena adanya perubahan-perubahan dalam
berbagai variable eksternal seperti system politik, ekonomi, teknologi, pasar,
dan nilai-nilai. Kenaikan biaya dan kelangkaan berbagai SDA, keamanan karyawan
dan peraturan-peraturan anti polusi, boikot pelanggan adalah beberapa contoh
factor-faktor lingkungan yang merubah kehidupan orang baik sebagai karyawan
maupun langgganan dalam tahun-tahun terakhir. Berbagai kekuatan eksternal dari
kemajuan teknologi sampai kegiatan-kegiatan persaingan dan perubahan pola
kehidupan,dapat menekan organisasi untuk mengubah tujuan, struktur dan metode
operasinya.
Kekuatan-kekuatan perubahan eksternal, meliputi :
1. Kebudayaan
2. Pendidikan
3. Sosial
4. Politik
5. Ekonomi
6. Teknologi
B. Kekuatan-kekuatan internal
Kekuatan-kekuatan pengubah internal merupakan hasil dari factor-faktor
seperti tujuan, strategi, kebijaksanaan manajerial dan teknologi baru serta
sikap dan perilaku para karyawan. Sikap dan ketidak puasan karyawan seperti
ditunjukkan dalam tingkat perputaran atau pemogokan, dapat menyebabkan berbagai
perubahan dalam kebijaksanaan dan praktek manajemen.
Kekuatan-kekuatan perubahan internal, meliputi :
1. Kegiatan-kegiatan karyawan
2. Tujuan organisasi
3. Strategi dan kebijaksanaa
4. Teknologi
Cara-cara Penanganan Perubahan
Ada dua pendekatan penanganan perubahan organisasi:
1. Proses perubahan reaktif.
Manajemen bereaksi atas tanda-tanda bahwa perubahan dibutuhkan, pelaksanaan
modifikasi sedikit demi sedikit untuk menangani masalah tertentu yang timbul.
Sebagai contoh, bila peraturan baru dari pemerintah mensyaratkan perusahaan
untuk mempunyai perlindungan terhadap kebakaran, maka manajer mungkin akan
membeli alat pemadam kebakaran.
2. Program perubahan yang
direncanakan (planned change), disebut sebagai proses proaktif. Manajemen
melakukan berbagai investasi waktu dan sumberdaya lainnya yang berarti untuk
menguibah cara-cara operasi organisasi. Perubahan yang direncanakan ini
didefinisikan sebagai perancangan dan implementasi inovasi struktural,
kebijaksanaan atau tujuan baru, atau suatu perubahan dalam filsafat, iklim dan
gaya pengoperasian secara sengaja. Pendekatan ini tepat bila keseluruhan
organissi, atau sebagian besar satuan organisasi, harus menyiapkan diri untuk
atau menyesuaikan dengan perubahan.
Di dalam proses perubahan, terdapat seorang atau individu yang bertanggung
jawab atas peranan kepemimpinan dalam proses pengelolaan perubahan. Individu
ini disebut dengan “Change Agent” (pengantar perubahan). Sedangkan individu
atau kelompok yang merupakan sasaran perubahan disebut “sistem klien”.
Pengantar perubahan ini dapat berasal dari para anggota organisasi atau dapat
sebagai konsultan dari luar organisasi.
Konsep pengembangan Organisasi
1. Pengertian
Pengembangan Organisasi (OD)
a. Strategi
untuk merubah nilai-nilai daripada manusia dan juga struktur organisasi
sehingga organisasi itu adaptif dengan lingkungannya.
b. Suatu
penyempurnaan yang terencana dalam fungsi menyeluruh (nilai dan struktur) suatu
organisasi.
2. Mengapa
Pengembangan Organisasi (OD) Perlu Dilakukan?
Dalam kenyataannya organisasi seringkali
terjadi stagnan yang disebabkan keengganan manusia untuk mengikuti perubahan,
dimana perubahan dianggap bisa menyebabkan dis equilibrium. Hal ini
mengakibatkan patologi dalam organisasi sehingga perlu dilakukan evaluasi,
adaptasi, kaderisasi dan inovasi.
3. Uraikan
gaya gaya kepemimpinan
Gaya Kepemimpinan Otokratis Gaya ini
kadang-kadang dikatakan kepemimpinan terpusat pada diri pemimpin atau gaya
direktif. Gaya ini ditandai dengan sangat banyaknya petunjuk yang datangnya
dari pemimpin dan sangat terbatasnya bahkan sama sekali tidak adanya peran
serta anak buah dalam perencanaan dan pengambilan keputusan. Pemimpin secara
sepihak menentukan peran serta apa, bagaimana, kapan, dan bilamana berbagai
tugas harus dikerjakan. Yang menonjol dalam gaya ini adalah pemberian perintah.
Pemimpin otokratis adalah seseorang yang memerintah dan menghendaki kepatuhan.
Ia memerintah berdasarkan kemampuannya untuk memberikan hadiah serta
menjatuhkan hukuman. Gaya kepemimpinan otokratis adalah kemampuan mempengaruhi
orang lain agar bersedia bekerjasama untuk mencapai tujuan yang telah
ditentukan dengan cara segala kegiatan yang akan dilakukan semata-mata
diputuskan oleh pimpinan. Adapun ciri-ciri gaya kepemimpinan otokratis adalah
sebagai berikut: • Wewenang mutlak terpusat pada pemimpin • Keputusan selalu
dibuat oleh pemimpin; • Kebijakan selalu dibuat oleh pemimpin; • Komunikasi
berlangsung satu arah dari pimpinan kepada bawahan; • Pengawasan terhadap
sikap, tingkah laku, perbuatan atau kegiatan para bawahannya dilakukan secara
ketat; • Tidak ada kesempatan bagi bawahan untuk memberikan saran pertimbangan
atau pendapat; • Lebih banyak kritik dari pada pujian, menuntut prestasi dan
kesetiaan sempurna dari bawahan tanpa syarat, dan cenderung adanya paksaan,
ancaman, dan hukuman. 2.Gaya Kepemimpinan Demokratis Gaya kepemimpinan
demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang
akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. Gaya ini
kadang-kadang disebut juga gaya kepemimpinan yang terpusat pada anak buah,
kepemimpinan dengan kesederajatan, kepemimpinan konsultatif atau partisipatif.
Pemimpin kerkonsultasi dengan anak buah untuk merumuskan tindakan keputusan
bersama. Adapun ciri-cirinya sebagai berikut: a.Wewenang pemimpin tidak mutlak;
b.Pimpinan bersedia melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahan; c. Keputusan
dan kebijakan dibuat bersama antara pimpinan dan bawahan; d.Komunikasi
berlangsung secara timbal balik, baik yang terjadi antara pimpinan dan bawahan
maupun sesama bawahan; e.Pengawasan terhadap sikap, tingkah laku, perbuatan
atau kegiatan para bawahan dilakukan secara wajar; f. Prakarsa dapat datang
dari pimpinan maupun bawahan; g. Banyak kesempatan bagi bawahan untuk
menyampaikan saran, pertimbangan atau pendapat; Tugas-tugas kepada bawahan
diberikan dengan lebih bersifat permintaan dari pada intruksi; h.Pimpinan
memperhatikan dalam bersikap dan bertindak, adanya saling percaya, saling
menghormati. 3. Gaya
Kepemimpinan Delegatif Gaya Kepemimpinan delegatif dicirikan dengan jarangnya
pemimpin memberikan arahan, keputusan diserahkan kepada bawahan, dan diharapkan
anggota organisasi dapat menyelesaikan permasalahannya sendiri (MacGrefor,
2004). Gaya Kepemimpinan adalah suatu ciri khas prilaku seorang pemimpin dalam
menjalankan tugasnya sebagai pemimpin. Dengan demikian maka gaya kepemimpinan
seorang pemimpin sangat dipengaruhi oleh karakter pribadinya. Kepemimpinan
delegatif adalah sebuah gaya kepemimpinan yang dilakukan oleh pimpinan kepada
bawahannya yang memiliki kemampuan, agar dapat menjalankan kegiatannya yang
untuk sementara waktu tidak dapat dilakukan oleh pimpinan dengan berbagai
sebab. Gaya kepemimpinan delegatif sangat cocok dilakukan jika staf yang
dimiliki memiliki kemampuan dan motivasi yang tinggi. dengan demikian pimpinan
tidak terlalu banyak memberikan instruksi kepada bawahannya, bahkan pemimpin
lebih banyak memberikan dukungan kepada bawahannya. 4.Gaya Kepemimpinan
Birokratis Gaya ini dapat dilukiskan dengan kalimat “memimpin berdasarkan
peraturan”. Perilaku pemimpin ditandai dengan keketatan pelaksanaan prosedur
yang berlaku bagi pemipin dan anak buahnya. Pemimpin yang birokratis pada
umumnya membuat keputusan-keputusan berdasarkan aturan yang ada secara kaku
tanpa adanya fleksibilitas. Semua kegiatan hampir terpusat pada pimpinan dan
sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak, itupun tidak
boleh lepas dari ketentuan yang ada. Adapun karakteristik dari gaya
kepemimpinan birokratis adalah sebagai berikut: a.Pimpinan menentukan semua
keputusan yang bertalian dengan seluruh pekerjaan dan memerintahkan semua
bawahan untuk melaksanakannya; b. Pemimpin menentukan semua standar bagaimana
bawahan melakukan tugas; c.Adanya sanksi yang jelas jika seorang bawahan tidak
menjalankan tugas sesuai dengan standar kinerja yang telah ditentukan. 5.Gaya
Kepemimpinan Laissez Faire Gaya ini mendorong kemampuan anggota untuk mengambil
inisiatif. Kurang interaksi dan kontrol yang dilakukan oleh pemimpin, sehingga
gaya ini hanya bias berjalan apabila bawahan memperlihatkan tingkat kompetensi
dan keyakinan akan mengejar tujuan dan sasaran cukup tinggi. Dalam gaya
kepemimpinan ini, pemimpin sedikit sekali menggunakan kekuasaannya atau sama
sekali membiarkan anak buahnya untuk berbuat sesuka hatinya. Adapun ciri-ciri
gaya kepemimpinan Laissez Faire adalah sebagai berikut: • Bawahan diberikan
kelonggaran atau fleksibel dalam melaksanakan tugas-tugas, tetapi dengan
hati-hati diberi batasan serta berbagai produser; • Bawahan yang telah berhasil
menyelesaikan tugas-tugasnya diberikan hadiah atau penghargaan, di samping
adanya sanksi-sanksi bagi mereka yang kurang berhasil, sebagai dorongan; •
Hubungan antara atasan dan bawahan dalam suasana yang baik secara umum manajer
bertindak cukup baik; • Manajer menyampaikan berbagai peraturan yang berkaitan
dengan tugas-tugas atau perintah, dan sebaliknya para bawahan diberikan
kebebasan untuk memberikan pendapatannya. 6.Gaya Kepemimpinan Otoriter /
Authoritarian Adalah gaya pemimpin yang memusatkan segala keputusan dan
kebijakan yang diambil dari dirinya sendiri secara penuh. Segala pembagian
tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter tersebut,
sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan. Tipe
kepemimpinan yang otoriter biasanya berorientasi kepada tugas. Artinya dengan
tugas yang diberikan oleh suatu lembaga atau suatu organisasi, maka
kebijaksanaan dari lembaganya ini akan diproyeksikan dalam bagaimana ia
memerintah kepada bawahannya agar kebijaksanaan tersebut dapat tercapai dengan
baik. Di sini bawahan hanyalah suatu mesin yang dapat digerakkan sesuai dengan
kehendaknya sendiri, inisiatif yang datang dari bawahan sama sekali tak pernah
diperhatikan. 7.Gaya Kepemimpinan Demokratis / Democratic Gaya kepemimpinan
demokratis adalah gaya pemimpin yang memberikan wewenang secara luas kepada
para bawahan. Setiap ada permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai
suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan
banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya. Tipe
kepemimpinan demokratis merupakan tipe kepemimpinan yang mengacu pada hubungan.
Di sini seorang pemimpin selalu mengadakan hubungan dengan yang dipimpinnya.
Segala kebijaksanaan pemimpin akan merupakan hasil musyawarah atau akan
merupakan kumpulan ide yang konstruktif. Pemimpin sering turun ke bawah guna
mendapatkan informasi yang juga akan berguna untuk membuat
kebijaksanaan-kebijaksanaan selanjutnya. 8.Gaya Kepemimpinan Karismatis
Kelebihan gaya kepemimpinan karismatis ini adalah mampu menarik orang. Mereka
terpesona dengan cara berbicaranya yang membangkitkan semangat. Biasanya
pemimpin dengan gaya kepribadian ini visionaris. Mereka sangat menyenangi
perubahan dan tantangan. Mungkin, kelemahan terbesar tipe kepemimpinan model
ini bisa di analogikan dengan peribahasa Tong Kosong Nyaring Bunyinya. Mereka
mampu menarik orang untuk datang kepada mereka. Setelah beberapa lama, orang –
orang yang datang ini akan kecewa karena ketidak-konsisten-an. Apa yang
diucapkan ternyata tidak dilakukan. Ketika diminta pertanggungjawabannya, si
pemimpin akan memberikan alasan, permintaan maaf, dan janji. 9.Gaya
Kepemimpinan Diplomatis Kelebihan gaya kepemimpinan diplomatis ini ada di
penempatan perspektifnya. Banyak orang seringkali melihat dari satu sisi, yaitu
sisi keuntungan dirinya. Sisanya, melihat dari sisi keuntungan lawannya. Hanya
pemimpin dengan kepribadian putih ini yang bisa melihat kedua sisi, dengan
jelas! Apa yang menguntungkan dirinya, dan juga menguntungkan lawannya.
Kesabaran dan kepasifan adalah kelemahan pemimpin dengan gaya diplomatis ini.
Umumnya, mereka sangat sabar dan sanggup menerima tekanan. Namun kesabarannya
ini bisa sangat keterlaluan. Mereka bisa menerima perlakuan yang tidak
menyengangkan tersebut, tetapi pengikut-pengikutnya tidak. Dan seringkali hal
inilah yang membuat para pengikutnya meninggalkan si pemimpin. 10.Gaya
Kepemimpinan Otoriter Tipe kepemimpinan yang otoriter biasanya berorientasi
kepada tugas. Artinya dengan tugas yang diberikan oleh suatu lembaga atau suatu
organisasi, maka kebijaksanaan dari lembaganya ini akan diproyeksikan dalam
bagaimana ia memerintah kepada bawahannya agar kebijaksanaan tersebut dapat
tercapai dengan baik. Di sini bawahan hanyalah suatu mesin yang dapat
digerakkan sesuai dengan kehendaknya sendiri, inisiatif yang datang dari
bawahan sama sekali tak pernah diperhatikan. Kelebihan model kepemimpinan
otoriter ini ada di pencapaian prestasinya. Tidak ada satupun tembok yang mampu
menghalangi langkah pemimpin ini. Ketika dia memutuskan suatu tujuan, itu
adalah harga mati, tidak ada alasan, yang ada adalah hasil. Langkah –
langkahnya penuh perhitungan dan sistematis.Dingin dan sedikit kejam adalah
kelemahan pemimpin dengan kepribadian merah ini. Mereka sangat mementingkan
tujuan sehingga tidak pernah peduli dengan cara. Makan atau dimakan adalah
prinsip hidupnya. 11.Gaya Kepemiminan Moralis Kelebihan dari gaya kepemimpinan
seperti ini adalah umumnya Mereka hangat dan sopan kepada semua orang. Mereka
memiliki empati yang tinggi terhadap permasalahan para bawahannya, juga sabar,
murah hati Segala bentuk kebajikan ada dalam diri pemimpin ini. Orang – orang
yang datang karena kehangatannya terlepas dari segala kekurangannya. Kelemahan
dari pemimpinan seperti ini adalah emosinya. Rata orang seperti ini sangat tidak
stabil, kadang bisa tampak sedih dan mengerikan, kadang pula bisa sangat
menyenangkan dan bersahabat. Jika saya menjadi pemimpin, Saya akan lebih
memilih gaya kepemimpinan demokratis.Karena melalui gaya kepemimpinan seperti
ini permasalahan dapat di selesaikan dengan kerjasama antara atasan
dan bawahan. Sehingga hubungan atasan dan bawahan bisa terjalin dengan baik.
12.Gaya Kepemimpinan Administratif Gaya kepemimpinan tipe ini terkesan kurang
inovatif dan telalu kaku pada aturan. Sikapnya konservatif serta kelihatan
sekali takut dalam mengambil resiko dan mereka cenderung mencari aman.
Model kepemimpinan seperti ini jika mengacu kepada analisis perubahan yang
telah kita bahas sebelumnya, hanya cocok pada situasi Continuation,
Routine change, serta Limited change. 13.Gaya kepemimpinan analitis
(Analytical). Dalam gaya kepemimpinan tipe ini, biasanya pembuatan
keputusan didasarkan pada proses analisis, terutama analisis logika pada
setiap informasi yang diperolehnya. Gaya ini berorientasi pada hasil dan
menekankan pada rencana-rencana rinci serta berdimensi jangka panjang.
Kepemimpinan model ini sangat mengutamakan logika dengan menggunakan
pendekatan-pendekatan yang masuk akal serta kuantitatif. 14.Gaya kemimpinan
asertif (Assertive). Gaya kepemimpinan ini sifatnya lebih agresif
dan mempunyai perhatian yang sangat besar pada pengendalian personal
dibandingkan dengan gaya kepemimpinan lainnya. Pemimpin tipe asertif lebih
terbuka dalam konflik dan kritik. Pengambilan keputusan muncul dari proses argumentasi
dengan beberapa sudut pandang sehingga muncul kesimpulan yang memuaskan.
15.Gaya kepemimpinan entrepreneur. Gaya kepemimpinan ini sangat menaruh
perhatian kepada kekuasaan dan hasil akhir serta kurang
mengutamakan pada kebutuhan akan kerjasama. Gaya kepemimpinan model ini
biasannya selalu mencari pesaing dan menargetkan standar yang tinggi. 16.Gaya
Kepemimpinan Visioner Kepemimpinan visioner, adalah pola kepemimpinan yang
ditujukan untuk memberi arti pada kerja dan usaha yang perlu dilakukan bersama-sama
oleh para anggota perusahaan dengan cara memberi arahan dan makna pada kerja
dan usaha yang dilakukan berdasarkan visi yang jelas. Kepemimpinan Visioner
memerlukan kompetensi tertentu. Pemimipin visioner setidaknya harus memiliki
empat kompetensi kunci sebagaimana dikemukakan oleh Burt Nanus (1992), yaitu:
1.Seorang pemimpin visioner harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara
efektif dengan manajer dan karyawan lainnya dalam organisasi. Hal ini
membutuhkan pemimpin untuk menghasilkan “guidance, encouragement, and
motivation.” 2.Seorang pemimpin visioner harus memahami lingkungan luar dan
memiliki kemampuan bereaksi secara tepat atas segala ancaman dan peluang. Ini
termasuk, yang plaing penting, dapat "relate skillfully" dengan orang-orang
kunci di luar organisasi, namun memainkan peran penting terhadap organisasi
(investor, dan pelanggan). 3.Seorang pemimpin harus memegang peran penting
dalam membentuk dan mempengaruhi praktek organisasi, prosedur, produk dan jasa.
Seorang pemimpin dalam hal ini harus terlibat dalam organisasi untuk
menghasilkan dan mempertahankan kesempurnaan pelayanan, sejalan dengan
mempersiapkan dan memandu jalan organisasi ke masa depan (successfully achieved
vision). 4. Seorang pemimpin visioner harus memiliki atau mengembangkan
"ceruk" untuk mengantisipasi masa depan. Ceruk ini merupakan ssebuah
bentuk imajinatif, yang berdasarkan atas kemampuan data untuk mengakses
kebutuhan masa depan konsumen, teknologi, dan lain sebagainya. Ini termasuk
kemampuan untuk mengatur sumber daya organisasi guna memperiapkan diri
menghadapi kemunculan kebutuhan dan perubahan ini. Dalam era turbulensi
lingkungan seperti sekarang ini, setiap pemimpin harus siap dan dituntut mampu
untuk melakukan transformasi terlepas pada gaya kepemimpinan apa
yang mereka anut. Pemimpin harus mampu mengelola perubahan, termasuk di
dalamnya mengubah budaya organiasi yang tidak lagi kondusif dan produktif.
Pemimpin harus mempunyai visi yang tajam, pandai mengelola keragaman dan
mendorong terus proses pembelajaran karena dinamika perubahan
lingkungan serta persaingan yang semakin ketat. 17.Gaya Kepemimpinan
Situasional kepemimpinan situasional adalah “a leadership contingency theory
that focuses on followers readiness/maturity”. Inti dari teori kepemimpinan situational
adalah bahwa gaya kepemimpinan seorang pemimpin akan berbeda-beda, tergantung
dari tingkat kesiapan para pengikutnya. Pemahaman fundamen dari teori
kepemimpinan situasional adalah tentang tidak adanya gaya kepemimpinan yang
terbaik. Kepemimpinan yang efektif adalah bergantung pada relevansi tugas, dan
hampir semua pemimpin yang sukses selalu mengadaptasi gaya kepemimpinan yang
tepat. Efektivitas kepemimpinan bukan hanya soal pengaruh terhadap individu dan
kelompok tapi bergantung pula terhadap tugas, pekerjaan atau fungsi yang
dibutuhkan secara keseluruhan. Jadi pendekatan kepemimpinan
situasional fokus pada fenomena kepemimpinan di dalam suatu situasi yang unik.
Dari cara pandang ini, seorang pemimpin agar efektif ia harus mampu menyesuaikan
gayanya terhadap tuntutan situasi yang berubah-ubah. Teori kepemimpinan
situasional bertumpu pada dua konsep fundamental yaitu:tingkat
kesiapan/kematanganindividu atau kelompok sebagai pengikut dangaya
kepemimpinan. 18.Kepemimpinan (Traits model of ledership) Kepemimpinan ini pada
tahap awal mencoba meneliti tentangwatak individu yang melekat pada diri para
pemimpin, seperti misalnya:kecerdasan,kejujuran, kematangan, ketegasan,
kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, statussosial ekonomi mereka dan
lain-lain (Bass 1960, Stogdill 1974). Pada umumnya studi-studi kepemimpinan
pada tahap awal mencoba meneliti tentang watak individu yang melekat pada diri
para pemimpin, seperti misalnya: kecerdasan, kejujuran, kematangan, ketegasan,
kecakapan berbicara, kesupelan dalam bergaul, status sosial ekonomi mereka dan
lain-lain. Terdapat enam kategori faktor pribadi yang membedakan antara
pemimpin dan pengikut, yaitu kapasitas, prestasi, tanggung jawab, partisipasi,
status dan situasi. Namun demikian banyak studi yang menunjukkan bahwa
faktor-faktor yang membedakan antara pemimpin dan pengikut dalam satu studi
tidak konsisten dan tidak didukung dengan hasil-hasil studi yang lain.
Disamping itu, watak pribadi bukanlah faktor yang dominant dalam menentukan
keberhasilan kinerja manajerial para pemimpin. Hingga tahun 1950-an, lebih dari
100 studi yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi watak atau sifat personal
yang dibutuhkan oleh pemimpin yang baik, dan dari studi-studi tersebut
dinyatakan bahwa hubungan antara karakteristik watak dengan efektifitas
kepemimpinan, walaupun positif, tetapi tingkat signifikasinya sangat rendah.
19.Kepemimpinan Militeristik Tipe pemimpin seperti ini sangat mirip dengan tipe
pemimpin otoriter yang merupakan tipe pemimpin yang bertindak sebagai diktator
terhadap para anggota kelompoknya.Adapun sifat-sifat dari tipe kepemimpinan
militeristik adalah: (1) lebih banyak menggunakan sistem perintah/komando,
keras dan sangat otoriter, kaku dan seringkali kurang bijaksana, (2)
menghendaki kepatuhan mutlak dari bawahan, (3) sangat menyenangi formalitas,
upacara-upacara ritual dan tanda-tanda kebesaran yang berlebihan, (4) menuntut
adanya disiplin yang keras dan kaku dari bawahannya, (5) tidak menghendaki
saran, usul, sugesti, dan kritikan-kritikan dari bawahannya, (6) komunikasi
hanya berlangsung searah.
4. Uraikan
tentang teori teori kepemimpinan
1.
Great Man Theory
Teori ini mengatakan bahwa pemimpin besar (great leader) dilahirkan, bukan
dibuat (leader are born, not made). dan dilandasi oleh keyakinan bahwa pemimpin
merupakan orang yang memiliki sifat-sifat luar biasa dan dilahirkan dengan
kualitas istimewa yang dibawa sejak lahir dan ditakdirkan menjadi seorang
pemimpin di berbagai macam organisasi. Orang yang memiliki kualitas dapat
dikatakan orang yang sukses dan disegani oleh bawahannya serta menjadi pemimpin
besar. Senada dengan hal tersebut, Kartini Kartono dalam bukunya membagi
definisi teori ini dalam dua poin, yaitu seorang pemimpin itu tidak dibuat,
akan tetapi terlahir menjadi pemimpin oleh bakat-bakat alami yang luar biasa
sejak lahirnya dan yang kedua dia ditakdirkan lahir menjadi seorang pemimpin
dalam situasi kondisi yang bagaimanpun juga. James (1980), menyatakan bahwa
setiap jaman memiliki pemimpin besar. Perubahan sosial terjadi karena para
pemimpin besar memulai dan memimpin perubahan serta menghalangi orang lain yang
berusaha membawa masyarakat kearah yang berlawanan.
Teori kepemimpinan ini dikembangkan dari penelitian awal yang mencangkup
studi pemimpin besar. Para pemimpin berasal dari kelas yang istimewa dan
memegang gelar turun-temurun. Sangat sedikit orang dari kelas bawah memiliki
kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin. Teori great man didasarkan pada
gagasan bahwa setiap kali ada kebutuhan kepemimpinan, maka munculah seorang
manusia yang luar biasa dan memecahkan masalah. Ketika teori great man
diusulkan, sebagian besar pemimpin adalah orang laki-laki dan hal itu tidak
bisa ditawar. Bahkan para peneliti adalah orang laki-laki juga, yang menjadi
alasan untuk nama teori tersebut “great man”. Konsep kepemimpinan pada teori
ini yang disebut orang besar adalah atibut tertentu yang melekat pada diri
pemimpin atau sifat personal, yang membedakan antara pemimpin dan pengikutnya.
Teori ini secara garis besar merupakan penjelasan tentang orang besar
dengan pengaruh individualnya berupa karisma, intelegensi, kebijaksanaan atau
dalam bidang politik tentang pengaruh kekuasaannya yang berdampak terhadap
sejarah. Pada teori ini sabagian besar bersandar pada pendapat-pendapat yang
dikemukakan oleh Thomas Charly di abad 19 yang penah menyatakan bahwa sejarah
dunia tidak melainkan sejarah hidup orang-orang besar. Menurutnya, seorang
pemimpin besar akan lahir saat dibutuhkan sehingga para pemimpin ini tidak bisa
diciptakan.
1.
Teori Sifat
Teori sifat kepemimpinan membedakan pada pemimpin dari mereka yang bukan
pemimpin dengan cara berfokus pada berbagai sifat dan karakteristik pribadi
masing-masing. Pada teori ini bertolak dari dasar pemikiran bahwa keberhasilan
seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat atau ciri-ciri yang dimilikinya.
Atas dasar pemikiran tersebut timbul anggapan bahwa untuk menjadi seorang
pemimpin yang berhasil sangat ditentukan oleh kemampuan pribadi pemimpin.
Kemampuan pribadi yang dimaksud adalah kualitas seseorang dengan berbagai sifat
atau ciri-ciri di dalam dirinya. Dalam mencari ciri-ciri kepemimpinan yang
dapat diukur, para peneliti menggunakan dua pendekatan yaitu mereka berusaha
membandingkan ciri-ciri dari dua orang yang muncul sebagai pemimpin dengan
ciri-ciri yang tidak demikian dan mereka membandingkan ciri pemimpin yang
efektif dengan ciri-ciri pemimpin yang tidak efektif. Akan tetapi studi tentang
ciri-ciri ini mengalami kegagalan untuk mengungkap secara jelas dan konsisten
yang membedakan pemimpin dan pengikut. Hasil penelitian ini dikemukakan oleh
Cecil A. Gibb (1969) bahwa pemimpin satu kelompok diketahui agak lebih tinggi,
lebih cemerlang, lebih terbuka, dan lebih percaya diri daripada yang bukan
pemimpin. Tetapi banyak orang yang memiliki ciri-ciri ini dan kebanyakan dari
mereka tidak pernah menjadi pemimpin. Salah satu temuannya, orang yang terlalu
cerdas dibanding dengan anggota dalam kelompok tidak muncul atau tidak menjadi
seorang pemimpin, barangkali orang ini berbeda terlalu jauh dengan kelompoknya.
Pada teori ini mengasumsikan bahwa manusia yang mewarisi sifat-sifat tertentu
dan sifat-sifat yang membuat mereka lebih cocok untuk menjalankan fungsi
kepemimpinan. Selain itu, juga menempatkan sejumlah sifat atau kualitas yang
dikaitkan dengan keberadaan pemimpin yang memungkinkan pekerjaan atau tugas
kepemimpinannya akan menjadi sukses ataupun efektif di mata orang lain. Seorang
pemimpin akan sukses atau efektif apabila dia memiliki sifat sifat-sifat
seperti berani bersaing, percaya diri, bersedia berperan sebagai pelayan orang
lain, loyalitas tinggi, intelegensi tinggi, hubungan interpersonal baik, dan
lain sebagainya. Menurut Judith R. Gordon menyatakan bahwa seorang pemimpin
harus memiliki karakter, seperti kemampuan intelektual, kematangan pribadi,
pendidikan, status sosial ekonomi, human relations, motivasi instrinsik dan
dorongan untuk maju (achievement drive). Sedangkan menurut Sondang P. Siagian
(1994:75-76), bahwa seorang pemimpin itu harus memiliki ciri-ciri ideal
diantaranya :
1.
Pengetahuan umum yang luas, daya ingat yang kuat, rasionalitas,
obyektivitas, pragmatisme, fleksibilitas, adaptabilitas, dan orientasi masa
depan.
2.
Sifat inkuisitif, rasa tepat waktu, rasa kohesi yang tinggi, naluri
relevansi, keteladanan, ketegasan, keberanian, sikap yang antisipatif,
kesediaan menjadi pendengar yang baik, kapasitas integratif.
3.
Kemampuan untuk bertumbuh dan berkembang, analitik, menentukan skala
prioritas, membedakan yang urgen dan yang penting, keterampilan mendidik dan
berkkomunikasi secara efektif.
Menurut Ronggowarsito, menjelaskan bahwa seorang pemimpin harus memiliki
Hastabrata, yaitu delapan sifat unggul seorang pemimpin yang dikaitkan dengan
sifat-sifat alam diantaranya :
1.
Bagaikan surya
Menerangi dunia, memberi kehidupan, menjadi penerang, pembuat senang, arif,
jujur, adil, dan rajin bekerja sehingga negara aman sentausa.
1.
Bagaiakan candra atau rembulan
Memberikan cahaya penerangan keteduhan pada hati yang tengah dalam
kesulitan, bersifat melindungi sehingga setiap orang dapat tekun menjalankan
tugasnya masing-masing dan memberi ketenangan.
1.
Bagaikan kartika atau bintang
Menjadi pusat pandangan sebagai sumber kesusilaan, menjadi kiblat
ketauladanan dan menjadi sumber pedoman.
1.
Bagaikan meja atau awan
Menciptakan kewibawaan, mengayomi meneduhi sehingga semua tindakan
menimbulkan ketaatan.
1.
Bagaikan bumi
Teguh, kokoh pendiriannya dan bersahaja dalam ucapannya.
1.
Bagaikan samudra
Luas pandangan, lebar dadanya, dan dapat membuat rakyat seia sekata.
1.
Bagaikan hagni atau api
Adil, menghukum tanpa memandang bulu, yang salah menjalankan hukuman dan
yang baik mendapat pahala.
1.
Bagaikan bayu atau angin
Adil, jujur, terbuka dan tidak ragu-ragu.
Dari penjelasan diatas, bahwa karakter istimewa yang harus dimiliki oleh
seorang pemimpin mencakup karakter bawaan dan karakter yang diperoleh kemudian
dikembangkan pada kemudian.
Adapun kelemahan dari seorang pemimpin pada teori sifat diantaranya :
1.
Terlampau banyak sifat-sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin
2.
Mengabaikan unsur Follower dan Situasi serta pengaruhnya terhadap
efektivitas pemimpin
3.
Tidak semua ciri cocok untuk segala situasi
4.
Terlampau banyak memusatkan pada sifat-sifat kepemimpinan dan mengabaikan
apa yang sebenarnya dilakukan oleh pemimpin.
Untuk menyukseskan pelaksanaan tugas para pemimpin belakangan ini telah
banyak dilakukan penelitian oleh para ahli dengan harapan dapat ditemukan
model kepemimpinan yang baik atau efektif. Namun kesimpulan dari hasil studi,
ternyata tidak ada satu model tunggal yang memenuhi harapan. Dalam kaitannya
dengan ciri-ciri pemimpin, J. Slikboer menyatakan bahwa setiap pemimpin
hendaknya memiliki tiga sifat, yaitu sifat dalam bidang intelektual, berkaitan
dengan watak, dan berhubungan dengan tugasnya sebagai pemimpin. Ciri-ciri lain
yang berbeda dikemukakan oleh Ruslan Abdulgani (1958) bahwa soerang pemimpin
harus mempunyai kelebihan dalam hal menggunakan pikiran, rohani dan jasmani.
1.
Teori Perilaku
Teori perilaku disebut juga dengan teori sosial dan merupakan sanggahan
terhadap teori genetis. Pemimpin itu harus disiapkan, dididik dan dibentuk
tidak dilahirkan begitu saja (leaders are made, not born). Setiap orang bisa
menjadi pemimpin, melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta dorongan oleh
kemauan sendiri. Teori ini tidak menekankan pada sifat-sifat atau kualitas yang
harus dimiliki seorang pemimpin tetapi memusatkan pada bagaimana cara aktual
pemimpin berperilaku dalam mempengaruhi orang lain dan hal ini dipengaruhi oleh
gaya kepemimpinan masing-masing. Dasar pemikiran pada teori ini adalah
kepemimpinan merupakan perilaku seorang individu ketika melakukan kegiatan
pengarahan suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Teori ini memandang bahwa
kepemimpinan dapat dipelajari dari pola tingkah laku, dan bukan dari
sifat-sifat (traits) soerang pemimpin. Alasannya sifat seseorang relatif sukar
untuk diidentifikasikan.
Beberapa pandangan para ahli, antara lain James Owen (1973) berkeyakinan
bahwa perilaku dapat dipelajari. Hal ini berarti bahwa orang yang dilatih dalam
perilaku kepemimpinan yang tepat akan dapat memimpin secara efektif. Namun
demikian hasil penelitian telah membuktikan bahwa perilaku kepemimpinan yang
cocok dalam satu situasi belum tentu sesuai dengan situasi yang lain. Akan
tetapi, perilaku kepemimpinan ini keefektifannya bergantung pada banyak
variabel. Robert F. Bales (Stoner, 1986) mengemukakan hasil pemelitian, bahwa
kebanyakan kelompok yang efektif mempunyai bentuk kepemimpinan terbagi (shared
leadership), seumpama satu oramg menjalankan fungsi tugas dan anggota lainnya
melaksanakan fungsi sosial. Pembagian fungsi ini karena seseorang perhatian
akan terfokus pada satu peran dan mengorbankan peran lainnya
http://drake1st.blogspot.co.id/2012/10/perubahan-dan-perkembangan-organisasi.html.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar